Standar Kecantikan dan Sejarah Kolonialisme

Share supaya bermanfaat

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Apakah anda sering dituntut oleh lingkungan sekitar anda untuk memiliki kulit putih?

Contohnya, sebagai istri, anda dituntut untuk melakukan rangkaian perawatan sebelum menikah agar kulit anda putih dan “tidak terlihat jorok”? Atau, sebagai remaja dulu, anda sering diejek karen kulit anda cenderung lebih gelap dari kulit anak-anak lainnya?

Keadaan ini merupakan sebuah kejahatan diskriminasi yang disebut colorism, yaitu kebencian yang berdasarkan oleh warna kulit. Rasisme warna kulit telah terjadi sejak tahun 1400-an, terutama di negara Amerika Serikat. Isu colorism disebut-sebut sebagai masalah politik nomor satu yang sampai sekarang sangat sulit dihilangkan.

Sama seperti isu colorism dan rasisme di luar negri, isu colorism di Indonesia juga masih marak terjadi. Terutama kepada perempuan. Standar kecantikan di Indonesia yang menginginkan perempuan memiliki tubuh tinggi semampai, badan langsing dengan pinggang kecil, serta kulit putih, merupakan cerminan jelas dari isu colorism dan rasisme.

Isu ini tentu tidak datang begitu saja. Indonesia memiliki sejarah panjang kolonialisme yang amat mempengaruhi struktur sosial dan budaya di masyarakat. Keberadaan stigma dan tuntutan standar terhadap perempuan yang masih ada meskipun sudah memasuki tahun 2022 ini ada karena pengaruh kolonialisme Belanda yang menempatkan orang berkulit putih menjadi “strata tertinggi” dalam masyarakat.

Dalam buku berjudul Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia, penulis L. Ayu Saraswati mengupas bagaimana pengaruh Belanda sangat menjadikan laki-laki berkulit putih sebagai “pemilik sumber daya” dan menempatkan perempuan, terutama yang berkulit gelap, sebagai “sumber daya” atau objek, dan bukan sebagai manusia.

Superioritas kulit putih telah tertanam di benak masyarakat Indonesia sebagai korban doktrin kolonialisme, sehingga masyarakat mempunyai keinginan untuk tetap berada di level atas di sistem hierarki. Kemudian, keinginan tersebut tumbuh menjadi ego. Ego itu kemudian terbentuk sehingga masyarakat selalu menghimbau teman, keluarga, dan anak-anak perempuan untuk memiliki kulit putih.

Dilansir dari Magdalene, Ayu menjelaskan tentang masyarakat Indonesia yang sangat mengagungkan kulit putih.

“Secara tidak sadar, kita berpartisipasi melanggengkan gagasan-gagasan mengenai superioritas putih itu. Proses pemaknaan itu berlangsung secara tidak sadar melalui tatanan emosi kita. Misalnya, dalam berbagai film, karakter yang baik biasanya memiliki warna putih atau warna terang. Sementara tokoh yang jahat, menakutkan, dan horor, ditandai dengan warna hitam, seperti jubah hitam,” ujar Ayu dalam diskusi panel ‘Bongkar Kata’ Etalase Pemikiran Perempuan 2021 pada (24/7).

“Yang menarik, di Indonesia, rasialisme dan warnaisme tidak selalu tumpang tindih. Kalau di Amerika
Serikat, orang kulit putih dianggap lebih baik.
The lighter the better. Namun di Indonesia, berdasarkan riset saya, ketika seseorang berkulit putih tapi dia berasal dari suku atau ras yang tidak populer, misalnya Cina, orang itu belum tentu dianggap cantik dan desirable.” tambah Ayu lagi.

Hal yang lebih absurd lagi adalah ketika standar kecantikan bergeser, namun kulit putih tetap menjadi syarat memenuhi standar tersebut. Dan anehnya tidak ada syarat khusus untuk seperti apa kulit putih tersebut.Yang penting putih’ menjadi goals dari banyak perempuan Indonesia yang terjebak dalam stigma tersebut.

Setelah 1998, muncul gagasan putih kosmopolitan atau cosmopolitan whiteness, yaitu standar kecantikan berupa kulit putih, tapi tidak mengacu pada bangsa tertentu. Bangsa apa aja bisa jadi putih. Sebelumnya, perempuan Jepang mengiklankan produk-produk kecantikan Jepang. Nah, ketika masuk reformasi, perempuan Jepang bisa mengiklankan produk-produk Perancis atau negara lain, selama dia berkulit putih,” kata Ayu.

Itulah mengapa sebagai perempuan, kita perlu sadar bahwa tuntutan untuk memiliki kulit putih tidak akan ada habisnya, dan hanya akan membuat fisik dan mental kita sakit. Sebagai perempuan, kita harus sadar bahwa kita itu cantik apa adanya, dan yang dapat menentukan kecantikan diri kita hanyalah diri sendiri. Karena sebenarnya kesehatan tubuh adalah yang mencerminkan kecantikan itu sendiri. []