Membicarakan kesehatan organ intim dan reproduksi masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Akibatnya, tidak sedikit yang memilih mengabaikan gejala atau mencoba mencari diagnosis sendiri melalui internet.
Padahal, beberapa masalah pada organ intim membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis agar tidak berkembang menjadi komplikasi. Lantas, kapan harus ke dokter kelamin?
Secara umum, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE) jika mengalami perubahan pada area genital, nyeri saat buang air kecil, cairan yang tidak normal, luka, benjolan, atau keluhan lain yang menetap.
Gejala pada Area Intim yang Perlu Diperiksa
Jangan mengabaikan perubahan pada area genital, terutama jika gejala tidak kunjung membaik. Beberapa kondisi yang perlu diperiksakan antara lain:
- Luka atau benjolan: Muncul luka terbuka, lepuhan, kutil, bintil, atau benjolan yang tidak biasa di sekitar penis, vagina, anus, atau area mulut.
- Cairan yang tidak normal: Keluar cairan dari vagina atau penis dengan perubahan warna, jumlah, tekstur, atau bau yang tidak biasa.
- Gatal dan rasa terbakar: Gatal, kemerahan, atau sensasi terbakar yang menetap pada area genital atau selangkangan.
- Nyeri saat buang air kecil: Rasa perih atau terbakar ketika berkemih dapat menjadi salah satu tanda infeksi saluran kemih maupun infeksi menular seksual (IMS).
- Nyeri saat berhubungan seksual: Rasa sakit atau tidak nyaman saat atau setelah berhubungan seksual sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika terjadi berulang.
- Perdarahan yang tidak biasa: Perdarahan di luar menstruasi atau setelah berhubungan seksual perlu dievaluasi oleh dokter.
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami IMS. Beberapa keluhan juga dapat disebabkan oleh iritasi, alergi, infeksi jamur, atau kondisi kulit lainnya. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Kapan Harus ke Dokter Kelamin Meski Tidak Ada Gejala?
Pemeriksaan dokter tidak selalu harus menunggu munculnya keluhan. Ada beberapa kondisi ketika skrining kesehatan seksual dan reproduksi dapat dipertimbangkan.
1. Setelah Melakukan Hubungan Seksual Berisiko
Jika Anda melakukan hubungan seksual tanpa kondom atau dengan pasangan yang status IMS-nya tidak diketahui, konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan pemeriksaan IMS.
Beberapa infeksi menular seksual dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, merasa sehat tidak selalu berarti terbebas dari infeksi.
2. Jika Pasangan Didiagnosis Mengalami IMS
Jika pasangan seksual Anda diketahui mengalami IMS, segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Dokter dapat menentukan pemeriksaan dan langkah penanganan yang diperlukan berdasarkan jenis infeksi dan riwayat paparan.
Hindari melakukan pengobatan sendiri sebelum mendapatkan diagnosis yang tepat.
3. Sebelum Menikah atau Merencanakan Kehamilan
Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah atau sebelum merencanakan kehamilan dapat membantu mendeteksi sejumlah kondisi kesehatan, termasuk beberapa infeksi yang dapat menular kepada pasangan atau bayi.
Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan faktor risiko masing-masing individu.
Mengapa Penyakit Kelamin Tidak Sebaiknya Dibiarkan?
Salah satu alasan penting untuk tidak menunda pemeriksaan adalah karena beberapa IMS dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Jika tidak mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat, sebagian infeksi dapat menyebabkan komplikasi. Contohnya:
- Penyakit radang panggul pada wanita akibat infeksi tertentu.
- Infertilitas pada pria maupun wanita akibat komplikasi beberapa jenis infeksi.
- Komplikasi kehamilan dan persalinan jika infeksi tertentu tidak ditangani.
- Kerusakan organ pada sifilis yang tidak mendapatkan pengobatan dan berkembang ke tahap lanjut.
- Peningkatan risiko kanker tertentu yang berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi.
Namun, tidak semua penyakit kelamin menyebabkan komplikasi tersebut. Risiko bergantung pada jenis infeksi, kondisi kesehatan, serta seberapa cepat seseorang mendapatkan diagnosis dan pengobatan.
Apa yang Dilakukan Saat Pemeriksaan Dokter Kelamin?
Tidak perlu takut atau malu saat berkonsultasi. Dokter akan menanyakan keluhan, riwayat kesehatan, serta kemungkinan faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi Anda.
Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik atau merekomendasikan pemeriksaan laboratorium, seperti tes darah, urine, atau sampel dari area yang mengalami keluhan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan penyebab keluhan sehingga pengobatan dapat diberikan secara lebih tepat.
Jangan Mendiagnosis Penyakit Kelamin Sendiri
Gejala seperti gatal, keputihan, luka, benjolan, atau rasa perih saat buang air kecil dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Menggunakan obat secara sembarangan tanpa mengetahui penyebabnya justru dapat membuat keluhan sulit ditangani.
Karena itu, hindari membeli antibiotik atau obat penyakit kelamin tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.
Kapan Harus Segera Mendapatkan Pertolongan Medis?
Selain membuat janji konsultasi, segera cari pertolongan medis jika keluhan pada area genital disertai kondisi yang berat, seperti:
- Nyeri hebat atau semakin memburuk.
- Demam tinggi atau menggigil.
- Pembengkakan yang signifikan.
- Perdarahan yang banyak atau tidak berhenti.
- Luka atau lepuhan yang meluas.
- Keluhan setelah mengalami kekerasan atau kontak seksual yang tidak diinginkan.
Penanganan yang lebih cepat dapat membantu menentukan penyebab dan mencegah komplikasi.
Kesimpulan
Kapan harus ke dokter kelamin? Jangan menunggu keluhan menjadi berat. Segera konsultasikan jika muncul luka, benjolan, gatal menetap, cairan yang tidak normal, nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual, maupun perdarahan yang tidak biasa.
Pemeriksaan juga penting setelah adanya paparan seksual berisiko, ketika pasangan didiagnosis mengalami IMS, atau saat merencanakan kehamilan. Ingat, beberapa IMS dapat tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan diri dan pasangan.
Tidak perlu merasa malu untuk berkonsultasi. Dokter akan membantu mencari penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai berdasarkan kondisi Anda.




