Gigi patah akibat kecelakaan, jatuh, atau benturan keras bukan sekadar masalah estetika. Kondisi ini termasuk darurat medis yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah infeksi dan menyelamatkan struktur gigi yang masih bisa dipertahankan.
Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang gigi dapat diperbaiki secara optimal. Berikut panduan lengkap yang perlu Anda ketahui.
Bahaya Mengabaikan Gigi Patah
Membiarkan gigi patah tanpa perawatan dapat memicu berbagai komplikasi serius, antara lain:
1. Infeksi dan Abses Gigi
Retakan atau patahan membuka jalan bagi bakteri masuk ke pulpa, yaitu bagian dalam gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah. Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi abses gigi, yaitu kantung nanah yang menimbulkan nyeri hebat dan pembengkakan.
2. Rasa Sakit Kronis
Kerusakan saraf akibat patahan dapat menyebabkan:
- Sensitivitas ekstrem terhadap panas dan dingin
- Nyeri saat mengunyah
- Rasa berdenyut yang menetap
Semakin lama dibiarkan, rasa sakit bisa semakin parah.
3. Gangguan Estetika dan Kepercayaan Diri
Gigi depan yang patah dapat memengaruhi penampilan secara signifikan. Banyak pasien merasa kurang percaya diri saat berbicara atau tersenyum.
Baca Juga : Mengenal Kusta: Gejala, Jenis, dan Pengobatan
Pertolongan Pertama Saat Gigi Patah
Tindakan awal sangat menentukan keberhasilan perawatan. Jika terjadi kecelakaan, lakukan langkah berikut:
1. Amankan Patahan Gigi
Jika menemukan bagian gigi yang patah, jangan dibuang. Dalam beberapa kasus, dokter gigi dapat menyambungkannya kembali.
Pegang bagian mahkota gigi, hindari menyentuh akar jika gigi terlepas sepenuhnya.
2. Simpan dengan Benar
Letakkan patahan gigi dalam:
- Susu cair murni
- Air liur sendiri (di dalam wadah bersih)
Tujuannya untuk menjaga sel tetap hidup. Jangan biarkan patahan mengering.
3. Bilas Mulut
Gunakan air hangat untuk membersihkan darah atau kotoran di area mulut. Hindari berkumur terlalu keras.
4. Kompres Dingin
Tempelkan kompres dingin di pipi bagian luar untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri.
5. Segera ke Dokter Gigi
Waktu emas penanganan adalah 30–60 menit pertama setelah kejadian. Semakin cepat ditangani, peluang penyelamatan gigi semakin besar.
Baca Juga : Acrodermatitis: Penyakit Kulit yang Menyerang Anak-anak
Pilihan Perawatan Medis untuk Gigi Patah
Dokter gigi akan menentukan prosedur berdasarkan tingkat kerusakan.
1. Dental Bonding (Tambal Gigi Estetik)
Untuk patahan kecil, dokter menggunakan resin komposit sewarna gigi untuk memperbaiki bentuk dan fungsi gigi. Prosedur ini cepat dan relatif minimal invasif.
2. Dental Crown (Mahkota Gigi)
Jika kerusakan cukup luas, mahkota tiruan dipasang untuk melindungi sisa struktur gigi. Crown membantu mengembalikan fungsi kunyah sekaligus estetika.
3. Perawatan Saluran Akar (PSA)
Jika patahan sudah mencapai pulpa dan menyebabkan infeksi, diperlukan perawatan saluran akar untuk membersihkan jaringan yang terinfeksi sebelum dilakukan restorasi lanjutan.
4. Implan Gigi
Jika gigi tidak dapat diselamatkan, implan gigi menjadi solusi permanen terbaik. Prosedur ini menggantikan akar dan mahkota gigi sehingga tampak dan berfungsi seperti gigi asli.
Apakah Gigi Patah Ditanggung BPJS?
Dalam kondisi gawat darurat tertentu, penanganan awal gigi patah dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Untuk kasus lanjutan seperti pemasangan crown atau implan, biasanya diperlukan tindakan tambahan di luar layanan dasar.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Segera kunjungi dokter gigi jika mengalami:
- Nyeri hebat
- Pendarahan tidak berhenti
- Pembengkakan signifikan
- Gigi goyang atau lepas total
Jangan menunda pemeriksaan karena komplikasi bisa berkembang cepat.
Kesimpulan
Gigi patah adalah kondisi serius yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Dengan pertolongan pertama yang benar dan tindakan medis sesuai kebutuhan, struktur gigi masih memiliki peluang besar untuk diselamatkan.
Jika mengalami benturan pada gigi, jangan panik. Bertindak cepat adalah kunci untuk menjaga kesehatan dan fungsi gigi Anda tetap optimal.
Baca Juga : Impetigo Krustosa: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan




