Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan disebabkan oleh infeksi virus Varicella-zoster (VZV). Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau belum mendapatkan vaksin cacar air.
Banyak orang mengira penularan hanya terjadi saat bintil merah sudah muncul. Padahal, virus penyebab cacar air dapat menyebar bahkan sebelum ruam terlihat. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara penularan, gejala, hingga langkah pencegahannya agar risiko penyebaran dapat diminimalkan.
Apakah Cacar Air Menular?
Ya, cacar air sangat menular. Seseorang yang belum memiliki kekebalan terhadap virus Varicella-zoster memiliki risiko tinggi tertular apabila melakukan kontak dengan penderita.
Penularan dapat terjadi sejak 1–2 hari sebelum ruam muncul hingga seluruh lepuhan mengering dan berubah menjadi keropeng. Selama masih terdapat lepuhan yang berisi cairan, penderita masih dapat menularkan virus kepada orang lain.
Bagaimana Cara Penularan Cacar Air?
Virus Varicella-zoster dapat menyebar melalui beberapa cara, antara lain:
1. Percikan Droplet
Saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, virus dapat keluar melalui percikan air liur dan terhirup oleh orang di sekitarnya.
2. Kontak Langsung
Menyentuh cairan dari lepuhan cacar air dapat menyebabkan virus berpindah ke orang lain, terutama jika tangan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
3. Benda yang Terkontaminasi
Handuk, pakaian, seprai, atau benda lain yang terkena cairan lepuhan berpotensi menjadi media penularan apabila tidak dibersihkan dengan baik.
Gejala Cacar Air
Gejala biasanya muncul sekitar 10–21 hari setelah terpapar virus. Sebelum ruam muncul, penderita umumnya mengalami gejala seperti:
- Demam.
- Tubuh terasa lemas.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot.
- Nafsu makan menurun.
Setelah itu akan muncul ruam yang berkembang melalui beberapa tahap, yaitu:
Papula
Bintik merah kecil yang terasa gatal.
Vesikel
Bintik berubah menjadi lepuhan berisi cairan bening.
Krusta
Lepuhan mengering, membentuk keropeng, lalu akan sembuh secara bertahap.
Ruam biasanya muncul pertama kali di dada, punggung, atau wajah sebelum menyebar ke seluruh tubuh.
Baca Juga : Makan Telur Bikin Bisulan, Ini Penjelasan Medisnya
Siapa yang Berisiko Mengalami Cacar Air?
Risiko lebih tinggi terjadi pada:
- Anak-anak yang belum mendapatkan vaksin.
- Orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air.
- Ibu hamil yang belum memiliki kekebalan.
- Orang dengan daya tahan tubuh lemah.
- Tenaga kesehatan atau anggota keluarga yang sering kontak dengan penderita.
Cara Mengobati Cacar Air
Pada sebagian besar kasus, cacar air dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar 7–14 hari. Pengobatan bertujuan mengurangi gejala dan mencegah infeksi sekunder.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Gunakan Obat Penurun Demam
Paracetamol dapat membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri. Hindari memberikan aspirin pada anak karena dapat meningkatkan risiko Sindrom Reye.
Gunakan Losion Kalamin
Losion kalamin dapat membantu mengurangi rasa gatal sehingga penderita tidak terus menggaruk lepuhan.
Tetap Menjaga Kebersihan Kulit
Mandi menggunakan air hangat suam-suam kuku membantu menjaga kebersihan kulit dan mengurangi risiko infeksi bakteri.
Hindari Menggaruk Lepuhan
Menggaruk dapat menyebabkan luka, infeksi, bahkan meninggalkan bekas permanen. Potong kuku secara rutin agar kulit tidak mudah terluka.
Perbanyak Istirahat dan Cairan
Istirahat yang cukup dan konsumsi air putih membantu mempercepat proses pemulihan tubuh.
Baca Juga : Batas Konsumsi Gula Harian Menurut Ahli
Cara Mencegah Penularan Cacar Air
Pencegahan menjadi langkah terbaik untuk mengurangi penyebaran virus. Beberapa hal yang dapat dilakukan meliputi:
- Mendapatkan vaksin cacar air sesuai anjuran.
- Mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun.
- Menghindari kontak dekat dengan penderita.
- Tidak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi.
- Mengisolasi penderita hingga seluruh lepuhan berubah menjadi keropeng.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera lakukan pemeriksaan apabila penderita mengalami:
- Demam tinggi yang tidak kunjung turun.
- Sesak napas.
- Lepuhan tampak bernanah atau berbau.
- Ruam menyebar ke mata.
- Kejang atau penurunan kesadaran.
- Cacar air terjadi pada ibu hamil, bayi baru lahir, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Penanganan medis yang cepat dapat membantu mencegah komplikasi serius akibat infeksi virus Varicella-zoster.
Kesimpulan
Jadi jika kembali muncul pertanyaan apakah cacar air menular? Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular, terutama sebelum ruam muncul hingga seluruh lepuhan mengering. Penularannya dapat terjadi melalui percikan batuk atau bersin, kontak langsung dengan cairan lepuhan, maupun benda yang terkontaminasi.
Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah pada cacar air, segera lakukan isolasi mandiri, jaga kebersihan tubuh, dan konsultasikan ke tenaga medis jika muncul gejala berat. Di Alifah Clinic, Anda dapat berkonsultasi mengenai keluhan kulit dan mendapatkan penanganan yang sesuai untuk membantu proses pemulihan secara optimal.
Baca Juga : Mengenal Proses Penuaan Kulit dan Cara Tepat Penanganannya agar Tetap Awet Muda




