Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi, Normalkah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Pernah melihat bercak darah di busa pasta gigi saat sedang menyikat gigi? Meski terlihat sepele, kondisi ini sering membuat banyak orang bertanya, apakah gusi berdarah saat sikat gigi merupakan hal yang normal?

Pada dasarnya, gusi yang sehat tidak mudah berdarah ketika disikat dengan teknik dan tekanan yang tepat. Jika perdarahan sering terjadi, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya peradangan, penumpukan plak, atau masalah kesehatan mulut lainnya.

Sayangnya, tidak sedikit orang justru menghindari menyikat bagian gusi yang berdarah karena takut memperparah kondisinya. Padahal, jika penyebabnya adalah penumpukan plak, mengabaikan kebersihan gigi dapat membuat peradangan semakin berat.

Lantas, apa penyebab gusi berdarah saat sikat gigi? Bagaimana cara mengatasinya, dan kapan perlu memeriksakan diri ke dokter gigi?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apakah Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi Itu Normal?

Gusi berdarah saat menyikat gigi bukan kondisi yang sebaiknya dianggap normal, terutama jika terjadi berulang kali.

Gusi yang sehat umumnya terasa cukup kuat, tidak membengkak, dan tidak mudah berdarah saat dibersihkan dengan lembut.

Namun, warna gusi sehat dapat bervariasi dari merah muda hingga kecokelatan atau lebih gelap, bergantung pada pigmentasi alami masing-masing orang.

Perdarahan sesekali dapat terjadi akibat trauma ringan, misalnya ketika menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan benang gigi dengan teknik yang kurang tepat.

Meski demikian, perdarahan yang sering muncul perlu diperhatikan karena salah satu penyebab paling umum adalah gingivitis atau radang gusi.

6 Penyebab Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi

Gusi berdarah dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan membersihkan gigi hingga kondisi kesehatan tertentu.

Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui.

1. Radang Gusi atau Gingivitis

Gingivitis merupakan salah satu penyebab paling umum dari gusi yang mudah berdarah.

Kondisi ini biasanya terjadi akibat penumpukan plak, yaitu lapisan lengket yang mengandung bakteri dan terbentuk secara alami pada permukaan gigi.

Jika plak tidak dibersihkan dengan baik, bakteri dapat memicu peradangan pada jaringan gusi.

Beberapa tanda gingivitis antara lain:

  • Gusi tampak merah atau membengkak.
  • Gusi mudah berdarah saat menyikat gigi.
  • Gusi terasa lebih sensitif.
  • Bau mulut yang tidak sedap.

Kabar baiknya, gingivitis akibat plak umumnya dapat membaik dengan pembersihan profesional dan kebiasaan menjaga kebersihan mulut yang tepat.

Namun, jika dibiarkan, peradangan pada sebagian orang dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang lebih berat.

2. Menyikat Gigi Terlalu Keras

Menyikat gigi dengan tekanan kuat tidak membuat gigi menjadi lebih bersih.

Sebaliknya, kebiasaan ini dapat melukai jaringan gusi dan berkontribusi terhadap pengikisan permukaan gigi atau resesi gusi.

Penggunaan sikat gigi dengan bulu terlalu keras juga dapat meningkatkan risiko trauma, terutama jika disertai teknik menyikat yang agresif.

Karena itu, gunakan sikat gigi berbulu lembut dan lakukan gerakan menyikat secara perlahan.

3. Penumpukan Karang Gigi

Plak yang tidak dibersihkan dapat mengalami mineralisasi dan mengeras menjadi karang gigi atau kalkulus.

Karang gigi dapat terbentuk di atas maupun di bawah garis gusi.

Permukaannya dapat mempermudah penumpukan plak lebih lanjut sehingga berkontribusi terhadap peradangan gusi.

Berbeda dengan plak yang dapat dibersihkan melalui sikat gigi dan pembersihan sela gigi, karang gigi yang sudah mengeras tidak dapat dihilangkan hanya dengan menyikat gigi.

Untuk membersihkannya, diperlukan tindakan scaling oleh tenaga kesehatan gigi yang berwenang.

4. Penggunaan Benang Gigi yang Kurang Tepat

Membersihkan sela gigi menggunakan dental floss merupakan bagian penting dari kebersihan mulut.

Namun, jika benang gigi ditekan terlalu keras hingga mengenai jaringan gusi, perdarahan dapat terjadi akibat trauma.

Gusi yang sudah meradang juga lebih mudah berdarah saat pertama kali dibersihkan dengan benang gigi.

Gunakan dental floss secara perlahan dan hindari gerakan yang menghentak ke arah gusi.

Jika perdarahan terus berlangsung meskipun teknik sudah diperbaiki, sebaiknya periksakan kondisi gusi kepada dokter gigi.

5. Kekurangan Nutrisi atau Gangguan Pembekuan Darah

Kekurangan vitamin C yang berat dapat memengaruhi kesehatan jaringan ikat, termasuk jaringan gusi.

Sementara itu, vitamin K memiliki peran dalam proses pembekuan darah.

Namun, kekurangan vitamin bukanlah penyebab utama pada sebagian besar kasus gusi berdarah.

Perdarahan juga dapat berkaitan dengan penggunaan obat pengencer darah, gangguan pembekuan, atau kondisi medis tertentu.

Jika gusi sering berdarah tanpa pemicu yang jelas, terutama jika disertai mudah memar atau perdarahan di bagian tubuh lain, diperlukan evaluasi medis.

6. Perubahan Hormon, Termasuk Saat Kehamilan

Perubahan hormon dapat memengaruhi respons jaringan gusi terhadap plak.

Pada masa kehamilan, misalnya, sebagian perempuan mengalami peningkatan kerentanan terhadap gingivitis.

Kondisi ini sering disebut sebagai gingivitis kehamilan.

Meski dipengaruhi perubahan hormon, menjaga kebersihan gigi dan pemeriksaan dokter gigi tetap penting untuk membantu mengendalikan peradangan.

Perlu diketahui bahwa pemeriksaan gigi dan tindakan perawatan yang diperlukan, termasuk scaling, umumnya dapat dilakukan selama kehamilan dengan pertimbangan kondisi pasien.

Apakah Gusi Berdarah Bisa Menjadi Tanda Periodontitis?

Gusi berdarah dapat menjadi salah satu tanda penyakit periodontal, tetapi tidak semua perdarahan gusi berarti seseorang mengalami periodontitis.

Periodontitis merupakan kondisi peradangan yang melibatkan jaringan penyangga gigi, termasuk ligamen periodontal dan tulang di sekitar gigi.

Berbeda dengan gingivitis yang belum menyebabkan kehilangan jaringan penyangga gigi, periodontitis dapat menimbulkan kerusakan yang tidak sepenuhnya dapat dipulihkan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Gusi mudah berdarah.
  • Gusi tampak menyusut.
  • Gigi terlihat lebih panjang akibat resesi gusi.
  • Bau mulut yang menetap.
  • Gigi mulai terasa goyang.
  • Muncul nanah di sekitar gusi.

Periodontitis tidak selalu menimbulkan nyeri pada tahap awal.

Karena itu, pemeriksaan dokter gigi penting untuk mengetahui kondisi jaringan penyangga gigi sebelum kerusakan semakin berat.

6 Cara Mengatasi Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi

Penanganan gusi berdarah bergantung pada penyebabnya.

Jika perdarahan berkaitan dengan penumpukan plak dan gingivitis, menjaga kebersihan mulut secara konsisten merupakan langkah penting.

1. Gunakan Sikat Gigi Berbulu Lembut

Pilih sikat gigi dengan bulu lembut untuk membantu membersihkan permukaan gigi tanpa memberikan tekanan berlebihan pada gusi.

Sikat gigi yang nyaman digunakan juga dapat membantu Anda menjaga kebiasaan membersihkan gigi secara teratur.

2. Perbaiki Teknik Menyikat Gigi

Posisikan bulu sikat sekitar 45 derajat ke arah garis gusi, kemudian bersihkan gigi menggunakan gerakan lembut dan terkontrol.

Hindari menggosok secara horizontal dengan tekanan kuat.

Sikat gigi dua kali sehari selama sekitar dua menit menggunakan pasta gigi berfluoride.

3. Bersihkan Sela Gigi Setiap Hari

Sikat gigi tidak selalu dapat menjangkau seluruh permukaan di antara gigi.

Karena itu, bersihkan sela gigi setiap hari menggunakan dental floss atau alat pembersih interdental yang sesuai.

Jika gusi berdarah karena peradangan, pembersihan yang lembut dan konsisten dapat membantu memperbaiki kondisi gusi.

Namun, jangan memaksakan penggunaan benang gigi jika menimbulkan nyeri berat atau perdarahan yang tidak biasa.

4. Lakukan Scaling Jika Terdapat Karang Gigi

Jika gusi berdarah disebabkan oleh penumpukan karang gigi, menyikat gigi saja tidak cukup untuk menghilangkannya.

Dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan dan merekomendasikan scaling apabila diperlukan.

Scaling bertujuan membersihkan plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi.

Pada kondisi tertentu, terutama jika terdapat penyakit periodontal, pasien mungkin membutuhkan pembersihan lebih lanjut di bawah garis gusi.

5. Jaga Asupan Nutrisi dan Hindari Rokok

Konsumsi makanan bergizi seimbang membantu menjaga kesehatan jaringan tubuh, termasuk gusi.

Sumber vitamin C dapat diperoleh dari jeruk, jambu biji, stroberi, dan sayuran tertentu.

Sementara itu, sayuran hijau merupakan salah satu sumber vitamin K.

Hindari merokok karena kebiasaan ini merupakan faktor risiko penting penyakit periodontal dan dapat mengganggu proses penyembuhan jaringan.

Perlu diingat, pada perokok, tanda perdarahan gusi terkadang justru tidak terlalu terlihat meskipun terdapat penyakit periodontal.

6. Periksa Gigi dan Gusi Secara Berkala

Pemeriksaan rutin membantu dokter gigi mendeteksi penumpukan karang gigi, gingivitis, atau masalah periodontal sejak dini.

Interval pemeriksaan dapat berbeda sesuai kondisi kesehatan mulut dan faktor risiko masing-masing pasien.

Pemeriksaan setiap enam bulan sering digunakan sebagai acuan umum, tetapi sebagian orang membutuhkan kunjungan lebih sering atau lebih jarang berdasarkan rekomendasi dokter gigi.

Apakah Gusi Berdarah Boleh Tetap Disikat?

Banyak orang berhenti menyikat bagian gusi yang berdarah karena takut memperburuk kondisinya.

Padahal, jika perdarahan disebabkan oleh gingivitis akibat plak, menghentikan pembersihan justru dapat membuat plak semakin menumpuk.

Tetap bersihkan gigi dengan sikat berbulu lembut dan teknik yang benar.

Namun, hindari menyikat terlalu keras atau menggosok area yang sedang mengalami luka.

Jika perdarahan cukup banyak, tidak berhenti, atau muncul tanpa sebab yang jelas, segera lakukan pemeriksaan.

Kapan Gusi Berdarah Harus Diperiksa ke Dokter Gigi?

Jangan menunggu sampai gigi terasa goyang untuk memeriksakan kondisi gusi.

Sebaiknya konsultasikan kepada dokter gigi jika mengalami:

  • Gusi berdarah berulang kali saat menyikat gigi.
  • Gusi tampak membengkak atau terasa nyeri.
  • Bau mulut yang tidak kunjung membaik.
  • Gusi terlihat menyusut.
  • Gigi mulai terasa goyang.
  • Muncul nanah atau pembengkakan di sekitar gusi.
  • Perdarahan terjadi tanpa sebab yang jelas.

Jika perdarahan banyak dan sulit berhenti, terutama setelah cedera atau disertai gejala perdarahan lainnya, segera cari pertolongan medis.

Konsultasikan Gusi Berdarah di Alifah Clinic Karawang

Sahabat Sehat Alifah, gusi berdarah saat sikat gigi memang sering dianggap sebagai masalah kecil.

Padahal, kondisi ini dapat menjadi tanda bahwa kebersihan mulut perlu diperbaiki atau terdapat peradangan yang membutuhkan penanganan dokter gigi.

Jangan hanya mengganti pasta gigi atau menggunakan obat kumur tanpa mengetahui penyebabnya.

Alifah Clinic di Karawang menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, termasuk konsultasi serta scaling untuk membantu membersihkan plak dan karang gigi sesuai kebutuhan.

Melalui pemeriksaan dokter gigi, penyebab perdarahan dapat dievaluasi sehingga penanganannya lebih tepat.

Yuk, mulai perhatikan kesehatan gusi sebelum muncul keluhan yang lebih berat.

Konsultasikan masalah gusi berdarah dan kesehatan gigi Anda dengan dokter gigi di Alifah Clinic.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *